Home » , , » Renungan: Allah Mengawasi Kita

Renungan: Allah Mengawasi Kita

Written By mulia investama on Monday, March 4, 2013 | 5:41 PM

Allah mengawasi
Shallom saudaraku..
Renungan saat teduh kita kali ini mengupas tentang Allah yang selalu mengawasi apa yang kita lakukan.  Kita semua pasti mengatakan hal itu benar. Dan mengganggap sepele atas statement tersebut. Tapi kalau kita lihat dua contoh di bawah semoga bisa benar-benar paham dan takut akan Allah.
Minggu pagi, saya mendengar Firman Tuhan yang disampaikan oleh pendeta Petrus Agung dan itu sangat membuka pikiran dan hati saya bahwa Allah benar-benar mengawasi kita. Perhatian kejadian 21 ayat 33 dan 34. Abraham menanam pohon tamariska dan menyebut Allah yang kekal atau dalam terjemahan yang lain menyebut Allah El Olam (Allah yang tersembunyi). Mengapa Abraham menanam pohon tamariska? kenapa bukan pohon anggur? Saudara, pohon tamariska (roofless temple) saat itu di kenal pohon yang sakral atau tempat di mana menyembah Tuhan karena zaman itu belum ada gereja atau bait Allah secara fisik seperti sekarang. Abraham sangat tahu yang harus dilakukan. Dan sekarang kita lompat ke kitab 1 Samuel 22:6  dan seterusnya, Saul di bawah pohon tamariska memerintah membunuh seluruh kota. 
Lihatlah saudara, sesuatu yang zaman itu sangat disakralkan dengan seenaknya dipermainkan Saul. Dan ini menunjukkan bahwa Saul adalah orang yang tidak kenal Tuhan. Dan kalau kita baca 1 Samuel 31:4 dan seterusnya, dikisahkan Saul mati mengenaskan, mayatnya di paku di tembok. kemudian tulang-tulangnya di kuburkan di bawah pohon tamariska. Saudara, Allah itu Tuhan yang selalu mengawasi segalanya dengan detail.
Di bagian lain, kalau kita membaca kisah tentang Daud. Dia pernah meminta orang suruhannya menghadap Nadal. Tetapi Nadal malah menghina orang-orang suruhan Daud. Walaupun Abigail mampu meredakan kemarahan Daud, tetapi Allah tidak bisa terima kejadian itu. Saat Abigail bercerita ke suaminya Nadal bahwa Daud bermaksud membunuhnya, maka kagetlah Nadal. Seketika itu hati (jantung) Nadal berhenti. Tetapi belum mati sampai selama sepuluh hari, barulah dia mati. Kematian Nadal karena menghina 10 orang suruhan Daud, dan di mati setelah hatinya membatu selama 10 hari.
Saudaraku, kalau kita lihat kedua contoh di atas, adalah bukti Allah mengawasi kita dengan detail. Bukan bermaksud mengajak mensakralkan sesuatu di dunia ini, tetapi yang saya ingin ajak adalah kita benar-benar perhatikan langkah hidup kita. Apa yang kita lakukan atau ucapkan, sangat di perhatikan dengan detail oleh Allah. Dan yang saya ingin sampaikan, adalah renungkan kata-kata "mengawasi". Kata tersebut berbeda dengan melihat. Mengawasi berarti melihat dengan serius dan detail.
Adakalanya kita seolah2 tidak merasa adanya Hadirat Tuhan atau doa kita kering. Jika itu bukan karena kesalahan kita, maka itu karena Tuhan memang sengaja membiarkan Diri (bersembunyi) tetapi Dia tetap ada dan mengawasi kita. Setiap saat kita harus membereskan diri kita dari dosa. Segera minta ampun, dan berhati-hatilah dalam bersikap dan berkata-kata. Karena Allah pasti sedang mengawasi kita. 
Saudara, Firman ini untuk saya dan anda. Bahkan karena Allah Roh Kudus membawa saya ke depan radio untuk mendengar Firman ini, saya yakin Firman Tuhan ini juga harus saya perhatikan. Untuk itu, saya ingin ajak saudara untuk berdoa mohon ampun atas kesalahan kita, agar Tuhan jangan undur dari kita. Mari kita sama-sama berdoa, "Bapa, ampuni segala dosa kesalahanku. Jangan undur dariku, Bapa. Dan ajari kami agar setiap detik hidup kami berkenan dan menyenangkan hatiMu. Dalam Nama Yesus, Amin.
Share this article :

2 comments:

Resthoe Jeb said...

Sungguh luar biasa karya Tuhan...
Mkasih postnya Sob..
Sungguh membangun karakter iman sya..

mulia investama said...

Kita sama2 saling mengingatkan sob..


situs ini adalah milik Mulia SEO: www.jasaseomurah.co.id dan www.seomurah.net, sebagai penyedia jasa seo terbaik yang akan membawa situs anda ke halaman pertama google

Join Untuk Update Info

 
Support : Copyright © 2013. Saat Teduh, Kesaksian dan Renungan Rohani Kristen | Terang Surgawi - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger